Cileunyikidul's Blog

kami hadir untuk tumbuh

CERITA MENANAM PADI


“ada keinginan dalam mengisi liburan kali ini, tidak mengeluarkan uang tetapi mengerjakan sesuatu yang belum pernah aku kerjakan sebelumnya, siapa tau jadi profesi sampingan untuk menyambung hidup. Kebetulan 23 April 2011 ini lagi musim menanam padi. Dan kebetulan juga sejak lahir sampai sekarang sudah punya anak belum pernah sekali pun mengurus sawah. Mengurus sawah apakah bisa? Apakah tidak malu dilihat orang? Apakah tidak akan ditertawakan orang? ah peduli amat dengan semua itu. Pinjam parang, pinjam cangkul dan pergi ke sawah yang kira kira jauhnya 1 km dari tempat tinggal.”

Untuk mencapai sawah sejauh 1 km sengaja aku tidak jalan kaki, bukan tidak mau atau tidak kuat tapi ini supaya kalau ketemu orang tidak banyak Tanya mau kemana bawa parang dan cangkul? Malu deh, maklum pemula. Untuk mencapai sawah sengaja aku parkir motor yang agak jauh dari sawah. Sampai disawah, celingak celinguk bingun harus ngapain. Untung ada pak Haji Ending yang ngasih tau” tah jang jukutna dibabad heula, luhurna heula anu ditingcak ku ujang terus sisi anu kasawah jeung anu kasusukan.” Kira kira begini terjemaahannya” rumputnya dipotong dulu, atasnya yang kamu injak itu loh, baru rumput yang sebelah kiri ke sawah dan sebelah kanan ke parit.
Bersihin rumput apakah aku bisa? Kayanya aku tidak bisa? Bagimana harus memulainya? Kembali keragu-raguan menyelimuti. Kepercayaan diri goyah. Untuk mensiasati agar tak kelihatan bego, aku menjauh dari pak H. Ending dan mulai membersihkan rumput. Kira kira 15 menit berlalu, cape mulai terasa, berhenti sejenak dan menengok kebelakang. Ooh alangkah hebatnya aku, rumput yang diatas telah bersih, ada mungkin 5 Meter. Kepercayaan diri mulai meningkat, aku babat kiri kanannya. Bersih dan bersih.
Setelah galengan sudah bersih. Aku harus menyebar jerami jerami yang menumpuk ditengah sawah, supaya tidak menghalangi terektor waktu dibajak. Kali ini tidak ada keraguan. Jerami jerami itu aku sebar. Matahari sudah berada tepat di ubun – ubun, adjan dhuhur sudah berkumandang dan kerjaan sudah beres, aku bersiap pulang.
Pulang sengaja aku tidak balik arah, tetapi melanjutkan jalan yang ke kampung Galumpit. Pas ada turunan aku lihat seekor monyet yang dirantai. Sejak kecil monyet itu dirantai oleh pemiliknya dengan seutas tali kira kira 3 Meter.
Apakah aku juga selama ini terbelengu oleh tali yang mengikat leher. Terbelenggu oleh pikiran, Tidak berani keluar dari zona yang dianggap yaman. Meski sesungguhnya saya bisa melakukan banyak hal hebat dari perkiraan! berapa banyak kesempatan yang sebenarnya hadir, melintas di depan saya, namun saya tidak mempedulikannya?
saya mungkin mengganggap peluang itu terlalu tinggi untuk saya dan merasa tidak pantas berada disana. atau mungkin saya malah merasa tidak mampu untuk melakukan hal itu padahal sama sekali belum pernah mencobanya?

Kini saya akan mencoba menanam padi ini urutannya:

1. Menebar benih padi lamanya 40 hari
2. Sawah disiapkan untuk ditanami padi dengan cara dibajak. Galangannya dibersihkan dari rumput-rumput kalau perlu dibongkar, ini supaya tikus tidak bersembunyi dan punya rumah digalangan tersebut.
3. Setelah benih padi 40 hari baru diambil untuk ditanam di sawah.
4. Sebagai pemeliharaan setelah 1 bulan sawah dirambet/ dibersihkan dari rumput rumput yang tumbuh ditengah sawah dan diberi urea, mpk dan ts. Setelah dirambet kemudian 3 minggu kemudian dirambet kembali dan kasih pupuk lagi.
5. Tunggu deh hasil panennya. Kira kira 90 hari lagi. Saya share juga hasil panennya. Mudah mudahan banyak. Amiin

2011/04/24 - Posted by | UMUM

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: